Ya Allah…..
betapa nistanya diri ini, yang tidak mensyukuri nikmat-Mu. Aku
sering merasa tidak puas atas karunia-Mu. Padahal nikmat-Mu tidak bisa
kuhitung. Ya Allah betapa aku telah menganiaya diriku sendiri. Betapa
aku telah menyuburkan penyakit di dalam dada ini. Selama ini tak
kusadari bahwa aku telah menyemai bibit-bibit penyakit di dalam kalbuku.Kini
kudapati kalbuku penuh dengan noda dan dosa. Sadar atau tak
sadar…setiap detik, menit, jam atau hari aku menyemai noda-noda hitam.
Kini kulihat hatiku telah menghitam. Hanya ada sedikit titik putih
disana.Ya Allah, adakah dari titik putih itu aku bisa mulai
menghapus noda hitam? Adakah masih ada kesempatan buatku untuk
membersihkan tinta hitam yang membanjiri kalbuku? Adakah Engkau masih
memberi waktu buat aku untuk memperbanyak titik-titik putih yang terang
dalam kalbuku? Banyak tanya dan pikiran bergelut dalam sanubariku. Rasa
putus asa kadang menghampiri, walau kemudian diganti dengan asa. Silih
berganti asa dan putus asa datang. Aku nyata terombang-ambing dalam
kegelapan, penyesalan, kegelisahan dan berbagai rasa yang membuat hati
ini tidak tenteram.Aku menangis di malam yang kelam. Menangis
mengingat dosa dan noda itu. Menangis karena aku telah membuat hitam
kalbuku sendiri. Menangis karena kalbuku telah penuh noda dan dosa.
Menangis karena selama ini aku jauh dari-Mu, Ya Rabbi. Menangis karena
takut tidak ada lagi ruang bagiku untuk menambah titik terang di hatiku.
Takut dan khawatir titik terang/putih yang hanya kecil itu hilang sama
sekali.Ya Allah, di malam yang penuh berkah ini aku memohon dengan
penuh penyesalan ampunan dari-Mu. Berilah kepadaku kekuatan untuk mampu
membaca petunjuk-Mu, karena aku hanyalah seorang insan yang lemah.
Berilah kepadaku kekuatan untuk bisa menempuh jalan-Mu. Hamba sadar,
betapa berat ujian yang Engkau tebar untuk menguji hamba-Mu. Hamba
sadar, hamba tak punya daya, maka tolonglah hamba dalam menempuh ujian
yang Engkau berikan. Berikan kesabaran dalam menghadapi ujian yang amat
dahsyat ini. Ujian yang hanya sedikit dari hamba-Mu yang lulus.
Jadikanlah hamba insan yang termasuk dalam golongan yang sedikit itu…Ya
Allah…. Betapa aku melihat kalbuku telah penuh bercak hitam, aku masih
mempunyai setitik terang. Kuyakin seyakin-yakinnya bahwa Engkau masih
memberi kesempatan. Selama nyawa masih di badan. Selama masih ada
kemauan. Selama masih ada iman. Kuyakin Engkau masih memberi
kesempatan.Ya Allah, di malam yang benderang ini, hamba memohon
jadikanlah diri ini hamba-Mu yang tunduk kepada-Mu dengan rela. Berilah
hamba kekuatan untuk berjalan dijalan-Mu. Diri ini hanyalah makhluk
yang lemah, tidak punya daya selain yang Engkau anugerahkan.
DI
Antara Tanda-tanda Kematian Hati, ialah “tidak adanya” RASA SEDIH,
apabila seorang Hamba telah KEHILANGAN Kesempatan untuk melakukan taat
kepada Allah, dan Tidak Juga MENYESAL atas perbuatan (Kelalaian dan
Kemaksiatan) yang telah dia lakukan…
Hati Adalah tempat bertahtanya
keimanan kita, tempat pahala dan Dosa bertaruh kalau kata Bimbo…karena
itu, hati adalah Fondasi untuk menjaga benteng keimanan kita agar
senantiasa kokoh, berdiri tegak menghadapai segala ujian, melawan
segala macam godaan dunia dan Setan yang Dilaknat. Oleh karena itulah
mengapa Keadaan hati seorang mukmin sangat penting untuk diperhatikan,
karena Kondisi hati yang berubah-ubah akan menjadikan keimanan menjadi
turun naik, dalam hal ini rasulullah SAW bersabda, “Dinamakan hati
karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu
yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR.
Ahmad)
Keadaan Fisik atau jasmanai Kita penting untuk diperhatikan
juga, namun tidak lantas kita melupakan kondisi hati , memperbaiki dan
menjaganya juga, karena kondisi hati inilah yang jauh lebih penting.
mengapa ? karena hati kita-lah yang senantiasa dilihat oleh Allah,
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar
kamu. Yang Allah perhatikan adalah hati kamu.” (hadits)
Oleh karena
itu, menjaga dan menata hati, hendaklah menjadi prioritas penting dalam
hidup ini, karena jika Hati itu ibarat sebuah besi, dia akan berkarat
apabila lama tak diasah atau atau dibiarkan saja. Hati ibarat tumbuhan
yang senantiasa harus selalu dirawat dan disirami agar tetap tumbuh,
dan jika dibiarkan ia akan layu dan mati. Sedangkan manusia yang
diberikan Hati OlehNYA akan terus dikelilingi oleh musuh dalam
melakukan perjalanan sementaranya didunia. Nafsu amarah yang selalu
membawa kepada kehancuran, begitu juga dengan nafsu syahwat dan syetan
selalu mengiringinya dan selalu siap sedia menggodanya disetiap
kesempatan. Untuk Itulah manusia yang ingin tetap hati nya terjaga,
senantiasa Berdzikir (mengingat Allah) untuk membentengi hatinya
tersebut.
Mengapa berdzikir ? Dzikrullah atau memperbanyak mengingat
Allah, adalah ibadah agung yang bisa dilakukan dimanapun, dalam keadaan
apapun. Karena, kadangkala kegelisahan masih juga dirasakan, walaupun
kita setelah sholat, tadarus, atau sholat malam, walaupun juga setelah
itu kita berdzikir. sebetulnya dzikir, mengingat Allah itu tidak hanya
terbatas dilakukan sehabis sholat sebagaimana yang biasa umumnya
dilakukan. Kemudian selepas sholat kita lupa dengan Allah yang maha
perkasa dalam membolak-balikkan hati. Lupa dengan perintahnya kemudian
terjerumus kedalam lembah larangannya. ibadah wajib seperti sholat dan
puasa, ada tempat dan waktu larangan-laranagn tertentu, sedangkan
berdzikir tidak dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu. Dzikir
senantiasa mengingat Allah dalam situasi apapun. Susah dan senang selalu
menyertakan Allah di dalamnya, dan tentunya berdzikir dengan
menyertakan hati kita, bukan hanya di lisan.
Sesungguhnya kita
termasuk yang beruntung ketika menjaga hati kita dari “kematian hati”,
“Dan banyak-banyaklah mengingat Allah supaya kamu memperoleh
keberuntungan.” (Al Anfaal:45). Dalam ayat yang lain Allah berfirman,
“Dan laki-laki dan wanita yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah
telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al
Ahzab:35).
Dzikir adalah kehidupan bagi hati dan kelapangan dada.
Dengan mengingatNYA, cukuplah Allah sebagai tempat kita mengadu dikala
Sulit dan tempat berbagi saat kita Senang. Seberat apapun beban yang
dipikul akan terasa ringan jika senantiasa mengingat Allah. Karena
harus diyakini bahwa Allah SWT tidaklah memberikan cobaan yang berada
diluar kemampuan hambanya. Dengan membiasakan hati berzikir kepada
Allah akan membuat hati ini merasa aman dari segala bentuk kegelisahan
dan kejahatan makhlukNya, dan tentu saja menjadikan hati kita sebagai
raja yang mengendalikan akal pikiran kita, agar mampu berpikir dan
bertindak dengan menyertakan hati. dalam keadaan, duduk, berdiri atau
berbaring sekalipun, Mengingat Allah tetap bisa dilakukan, “Bila
seorang Mukmin “pergi” ke Pembaringan dengan MENGINGAT ALLAH,
sungguh…Tempat Tidurnya menjadi “Masjid Allah“. (Hasan Bashri)
Jika
kita terus mengingatNya maka hati kita akan diliputi oleh perasaan
tenang karena segala yang terjadi merupakan Kehendak Allah SWT atas
hambanya sedangkan kewajiban kita hanyalah menjalani segala kehendak
yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya. Ingatlah selalu akan firman
Allah yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.(Ar Ra’du:28)
Mudah-mudahan
dengan catatan ini, akan selalu mengingatkan saya untuk selalu menjaga
hati, dikala keimanan turun naik, disaat berupaya untuk tetap mampu
istiqomah, karena banyak sekali ditemukan catatan tentang hati, tapi
sebanyak apapun teori yang diperoleh, tanpa ada langkah konkret dan
perbuatan nyata memperbanyak mengingat Allah, maka Ilmu tersebut hanya
akan kita pikul tanpa membawa manfaat bagi diri…
Janganlah
Meninggalkan dzikir, lantaran hatimu TIDAK menghadap kepada Allah, itu
lebih Berat daripada kau melalaikan Allah tapi tetap berDzikir. Dan
bisa diharapkan Allah akan meningkatkanmu, dari dzikir dengan lalai ke
dzikir dengan sadar, dari dzikir secara sadar, meningkat ke dzikir
dengan Hati Menghadap. Yang demikian bagi Allah bukanlah pekerjaan
Sulit.Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara
itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo.
Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan
kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa.
Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan
memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota
badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.
Dan
jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya
menjadi sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika
saja suara itu berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti
sudah kehilangan indera pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat. Serta
merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat
luas dan bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari
semua ras. Mereka tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa
udara yang sangat panas menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat
dengan kepalaku. Tengkukku hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan
manusia yang melayang-layang oleh kepakan sayap mereka. Malaikatkah
itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub, seperti seorang anak
kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.
Tempat apa ini?
Di mana?
Semua orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang laki-laki yang berdiri di sampingku berkata,
“Inilah padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.
Padang
Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku
belum mati. Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa
belum dishalati dan ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia
fana. Aku belum menyaksikan kedahsyatan kiamat.
Aku belum mati.
Tanpa
dikomando, semua orang termasuk aku digiring menuju ke arah yang aku
tak tahu apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan
perlahan menuju tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar
suara menggema yang bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan
satu-persatu nama-nama manusia. Aku menunggu dengan tak sabar dan
menatap ke ujung sana, di suatu tempat seperti jurang. Tempat itu lebih
bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di balik jurang itu.
“Itulah neraka yang panas, di bawah sana,” kata lelaki tadi.
Neraka?
Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh
wajahku. Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia
dipertanggungjawabkan, berarti kiamat memang sudah lewat. Aku jadi
takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka. Pikiranku
kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala dalam keadaan tegang
seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis dakwah.
Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq
sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib.
Yang sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid
besar. Aku dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan
orang-orang yang beriman. Ya, aku yakin aku akan masuk surga.
‘Ya Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama hamba-hambamu yang beriman,’ bhatinku penuh harap.
Aku
semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan
manusia yang kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan
pastinya akan dijilati api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih
mulus berbentuk wajah manusia. Kukira aku akan masuk surga. Surga.
Surga, di manakah dia? Kulihat sebuah pintu yang sangat besar dan
bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang dan dijaga banyak
malaikat bersayap.
Kukira itulah pintu surga.
“Lihat, itulah Surga
yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya bisa
kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan
isi pikiranku.
Aku mengangguk antusias.
Ya, itulah pintu surga.
Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang menghalangi.
Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di atas
jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat
bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah
untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir
luput dari mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku
akan berjalan di atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah
berjalan dengan tenang dan anggun. Para malaikat melayang di kedua
sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?
“Ya, Rasulullah yang mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki surga,” jelas lelaki tadi.
Aku terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah.
‘Ya Rasul Allah, menolehlah,’ bhatinku.
Ingin
sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun
Beliau tak menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu
surga yang tinggi. Disusul oleh orang-orang mulia yang telah
diceritakan dalam buku-buku sejarah yang membosankan—para nabi, sahabat
Rasul, dan para mujahidin. Mereka melewati jembatan rambut—begitu
aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya. Ada yang berlari
bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu adalah
sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para
syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu
surga sambil tersenyum.
Antrian melewati jembatan rambut itu
seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah agak berbeda. Ada
yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang
bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika
melihat orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka
terjatuh ke dalam neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema
berkali-kali. Membuat bulu kudukku berdiri tegak-tegak.
Lalu kulihat
orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Hendra. Dia jatuh
dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya
karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat
gerombolan pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu
merah. Tetapi anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan
sambil tertawa memasuki surga.
Darahku serasa menguap. Bukankah aku
lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu? Bukankah aku tak pernah
mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang yang ’shaleh’?
Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku yang
seorang pendakwah dan dihormati umat?
Ada yang salah kukira. Tapi
sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu membersihkan trotoar
di depan rumahku. Juga pengemis yang saban hari menyambangi rumahku.
Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian yang kuajari
cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu menjadi
makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua
orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang
hati.
Aku menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa
sombongnya aku menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan
masuk surga sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat
orang-orang yang kuanggap hina memasuki surga tanpa halangan?
Karena
sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa
embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.
“Vandi…..”
Dan
aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi
amalku selama hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku
berbesar hati adalah aku menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira
ini berarti amalan baikku lebih banyak daripada amal buruk. Amal
buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah berbuat kesalahan? Tentu
saja surga akan kumasuki.
Tetapi ketika membuka buku itu, wajahku
pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih sedikit dengan dosaku.
Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin melihat apa
saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.
Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya. Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?
Aku malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.
Aku
shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku.
Aku berjalan di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga
yang menyibakkan gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya
aku ke masjid. Aku bersujud lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah
orang-orang yang sedang menatapku dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat
Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat indah dan panjang-panjang,
bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk mengambil hati para
makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku bersedekah
banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu terhormat
agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh
pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling
mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak
mungkin. Tidak ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image
bahwa aku manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku
berkotbah dengan berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar
aku tampil tidak mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku
nantinya. Aku hanya mencari perhatian bukan mengharap ridha Allah.
Aku
jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang sangat riya.
Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya yang
tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan
kikir.
Apakah aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku ini adalah benar.
Akulah
orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku
adalah orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang
hina di hadapan Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik.
Aku berbohong, ingkar, dan berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid
sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku
adalah orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin
Islam lain. Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu
apakah sesungguhnya yang dianggap bid’ah itu.
Aku juga orang yang
sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan dengan pengemis kecuali ada
kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau sudah begitu mau tak
mau aku harus memberi agar dicap pemurah.
Ternyata jiwaku kotor,
berlumuran dosa. Hatiku hitam dan keras bagai batu-batu gunung.
Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari seorang pengamen
gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah
terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.
Tiba-tiba namaku sekali
lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu. Jembatan itu
terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan
rambut itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa
jembatan itu hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya
tak akan sulit bila lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin
dan setengah malu atas dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan
menyesakkan dada menghembus angkuh, membuatku bergoyang-goyang. Makin
lama aku berjalan jembatan itu semakin menyempit dan akhirnya hanya
selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang. Aku harus berusaha
menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka bergejolak
di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi tanganku
berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu. Jadilah aku
bergelantungan menyedihkan.
Semakin tipis jembatan itu semakin
mengiris tanganku. Aku kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong
kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa menolongku sekarang.
Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka. Akhirnya aku
melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api
neraka menjilati tubuhku.
Tiba-tiba aku terbangun dan merasakan
wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil hidungku serta
menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang sedang
bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.
“Istigfar, Vandi, istigfar…” katanya.
Ternyata
banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali.
Aku baru ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di
sebuah Madrasah sebagai pemberi materi untuk peserta/santri.
Aku mimpi buruk.
“Mimpi apa kok pake teriak segala? ” tanya Anggit, sahabat yang menemani undanganku.
“Habis tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.
Mimpi
apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu mengingatkanku akan
dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh sangat kotor
dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran
dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku
mendambakan surga-Mu, ya Allah.
Aku benar-benar menyesalkan, betapa
aku manusia yang hina dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini.
Aku tak pantas berada di dekat mereka bahkan memanggil nama mereka
pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku gemetar seolah jasadku
menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata mulai meleleh di
ujung mataku dan aku menangis sesungguhkan menyesali semuanya.
http://syababul-huda.blogspot.co.id